KONSULTASIKAN MASALAH ANDA
Hubungi Kami

Muhammad Sang Nabi Agung

Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja, SH, M.Hum
Penulis:
Table of Contents

Muhammad Sang Nabi Agung

LBHASKIYASA.COM — Memahami sosok Sang Nabi Agung Muhammad Saw acapkali menimbulkan gesekan antar peradaban Timur dan Barat. Pemahaman umat Islam atas sosok agung Nabi Muhammad Saw rupanya tidak dapat difahami dalam peradaban barat. Peradaban Barat yang mengutamakan kebebasan berekspresi acapkali bergesekan keras dengan Peradaban Timur Islam khususnya atas sosok diri Sang Nabi. Kebebasan mengekspresikan wujud Sang Nabi melalui gambar atau tulisan dapat menyulut sengketa karena ini adalah bentuk penghinaan yang sangat fatal. Penghinaan sekecil apapun terhadap sosok Sang Nabi Agung ini akan dapat menyulut kemarahan, bahkan dari kalangan yang paling liberal sekalipun dari umat Islam (Schimmel, 2012). Inilah yang menjadi titik krusial antara peradaban barat dan timur (Islam) dalam memandang sosok Sang Nabi.

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw melalui tulisan seorang sastrawan Inggeris kelahiran India; Salman Rushdie (1989), hingga penggambaran sosok Nabi Muhammad Saw melalui wujud kartun oleh Lars Vilks di Swedia (2007) adalah bentuk kebebasan ekspresi bagi kalangan masyarakat Barat, tetapi tidak bagi kalangan muslim dimanapun. Reaksi atas penggambaran wujud Nabi Muhammad Saw melalui gambar kartun bagi kalangan Muslim di belahan dunia manapun adalah wujud penghinaan yang paling tajam. Perbuatan itu telah mengusik sebuah nilai kecintaan terdalam manusia terhadap sosok Sang Nabi Agung, selain adanya sebuah konsep syahadat dimana Muhammad Saw menjadi bagian yang terpisahkan sebagai pilar utama teologi Islam.

Keagungan Nabi Muhammad Saw dapat terlihat dalam pemikiran tasawwuf. Gagasan tasawwuf atas sosok Sang Nabi diwujudkan dalam konsep Nur Muhammad. Dalam konsep ini, Muhammad Saw adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari Cahaya-Nya, karena Allah adalah Cahaya di atas Cahaya (Qs.[24]:35). Allah sebelum menciptakan alam semesta, Dia mengambil setitik cahaya dari diriNya untuk dibentuk menjadi sosok agung Muhammad Saw. Dari cahaya Muhammad Saw inilah Allah menciptakan alam semesta. Dengan demikian Muhammad Saw memiliki dua sisi keagungan: Beliau Saw sebagai sosok cahaya ruhaniyah yang jauh telah tercipta sebelum terciptanya alam semesta, dan kedua adalah sosok wujud fisik Muhamamd Saw yang diciptakan dan dibentuk sebagai manusia yang dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal.

Konstruksi tasawwuf meletakkan ide Nur Muhammad sebagai representasi hadirnya Allah di alam semesta. Dia yang ingin dikenal oleh hambaNya, hadir melalui sosok agung Muhammad Saw. Bahwa keagunganNya dapat terwakili oleh kehadiran Muhammad Sang Nabi Agung. Beliau merupakan tajjali bagi Allah untuk memperkenalkan diriNya (Umar, 2012). Beliau Saw walau tetap manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan manusia dan bernilai kemanusiaan saja, melainkan juga menunjukkan sebuah rekonstruksi manusia dengan segenap nilai humanisme atroposenstrisme berpadu dengan nilai-nilai transcendental Ketuhanan dalam diri Beliau Saw.

Nur Muhammad menunjukkan sebuah konsep pemahaman bahwa semesta alam lahir darinya sebagai sebuah hakikat alam. Ia menjadi pusat (centrum) dari segenap ciptaanNya karena Beliau Saw adalah bahan utama membangun alam semesta. Maka Nur Muhammad dalam konstruksi tasawwuf juga dikenal dengan hakikat Muhammad sebagai sumber dari lahirnya semesta. Gagasan tasawwuf tentang Nur Muhammad ini sangat berbeda dengan konsep Plotinus tentang emanasi pelimpahan Cahaya Tuhan. Dalam konsep emanasi, semua bersumber dari Tuhan tanpa mengenal konsep penciptaan. Dalam konsep Nur Muhammad dikenal konsep penciptaan, dimana Tuhan sendiri menciptakan alam semesta melalui bahan dasarnya yaitu Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad (Sahabudin, 2002).

Muhammad Saw sebagai sosok yang terambil dari Cahaya Tuhan, dalam sosok wujud fisik manusia dititpkan ke dalam rahim wanita yang bernama Aminah sebagai ibunda dan Abdullah sebagai ayahandanya. Aminah memiliki makna amana (beriman), amin (terpercaya), serta amanah (tanggungjawab). Aminah bermakna perempuan yang dapat dipercaya karena keimanannya. Sedangkan Abdullah selaku ayah bermakna ketaatan (abd), yang bermakna seseorang yang menyerahkan totalitas hidupnya kepada Tuhan (abd Allah). Maka Allah menitipkan cahaya keagungan ini kepada keduanya selaku orangtua. Muhammad Saw secara wujud fisik mewarisi gen ketaatan penuh kepada Tuhan dan sifat terpercaya. Abdullah dan Aminah adalah perantara bagi Allah untuk menyalakan cahaya Muhammad bagi peradaban manusia (Suwito, 2017).

Keimanan anak manusia tidaklah sempurna jika tidak meyakini, mengakui Muhammad Saw selaku Nabi dan utusan Allah (asyhaduallah illaha ilallah wa asyhadu ana Muhammad ar rasulullah). Meyakini Allah selaku Tuhan bersamaan dengan keyakinan teologis terhadap hadirnya sang Nabi Agung Muhammad Saw. Keduanya menjadi keyakinan tak terpisahkan, mengingat bahwasanya hadirnya Sang Nabi Agung juga berasal dari Keagungan Allah sendiri. Dalam setiap ibadah sholat, setiap jiwa muslim akan melantunkan kalimat sholawat kepadanya. Nabi Muhammad adalah hub atau penghubung utama antar manusia biasa dengan Tuhan. Tanpa kehadirannya maka kita tak akan mengetahui apa yang dikehendaki olehNya bagi alam semesta.

Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (Qs.an Nisa [4]: 80).

Nabi Muhammad Saw dan Proses Transformasi

Kelahiran Muhammad Saw Sang Nabi Agung tidak saja berkaitan dengan struktur keyakinan teologis semata, tetapi ia juga masuk dalam segenap proses kehidupan peradaban manusia. Hadirnya Sang Nabi Agung ini telah memberikan sebuah proses perubahan yaitu mentransformasi masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang berperadaban, melalui pembentukan masyarakat madani. Konsep masyarakat madani yang diletakkan oleh Nabi Muhammad Saw jauh melampuai gagasan modern civil society. Pembentukan masyarakat yang mengutamakan pada nilai-nilai kebajikan dan etika dibandingkan penggunaan kekerasan hingga penghormatan terhadap hak asasi manusia termasuk penghormatan terhadap kedudukan kaum perempuan, jauh telah dirumuskan oleh Nabi Muhammad Saw jauh sebelum masyarakat dunia mengenal hal itu.

Muhammad Saw dalam sejarah peradaban manusia adalah sosok manusia paling agung yang mampu merubah, mentransformasi, sebuah kondisi masyarakat yang begitu tertinggal dalam hal akhlaq illahiah (jahilliyah) menjadi sebuah masyarakat yang berperadaban. Muhammad Saw dalam ruang diskursus pengetahuan manusia menjadi sosok yang penuh dengan nilai-nilai yang patut dicontoh oleh umat Manusia. Beliau menduduki peringkat pertama oleh Michael Hart dari 100 orang yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia.

Peran Muhammad Saw dalam mentransformasikan masyarakat dengan konsep masyarakat madani, menunjukkan sebuah kecerdasan religius sekaligus kecerdasan sosial beliau. Konsep membentuk masyarakat hukum sekaligus mengutamakan pada nilai keadaban dengan mendorong pada pelaksanaan musyawarah menjadi sebuah hal yang sangat modern untuk zaman itu. Posisi Madinah yang berada dalam dua kekuatan besar yaitu Kekaisaran Biyzantium Romawi di satu sisi dan Kekaisaran Persia yang saling berseteru. Kedua kekuatan besar ini mengadopsi model kekuasaan tunggal dan tidak mengenal konsep negara hukum seperti yang telah diterapkan oleh Muhammad Saw di Madinah.

Madinah sebagai sebuah centre of excellence menjadi begitu berbeda dengan kedua kekuatan yang saling berseteru. Bangunan kesetaraan masyarakat sipil yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad Saw menjadi sebuah model untuk membentuk masyarakat yang beradab. Sebuah bangunan masyarakat yang sederajat dimana seorang bangsawan sekalipun akan dapat dijatuhi hukuman jika melakukan pelanggaran hukum. Pada bentuk ini posisi Muhammad Saw tidak saja sebagai seorang pemimpin religius, melainkan juga pemimpin sosial Madinah. Beliau Saw mengutamakan pada proses musyawarah ketika menghadapi problematika sosio kultural dibandingkan mengedepankan faktor kekuasaan.

Nabi Muhammad Saw membentuk sebuah komunitas baru dengan mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Persaudaraan ini kemudian juga melibatkan persahabatan dengan kaum Yahudi Madinah dalam sebuah Konstitusi Madinah. Nabi Saw melihat adanya hubungan sosial yang harus dibangun antar umat beragama di Madinah. Persaudaraan ini berguna untuk merekatkan persatuan di kalangan penduduk dari adanya ancaman yang dapat mengganggu kehidupan warga Madinah. Konsep Konstitusi Madinah yang digagas oleh Sang Nabi Agung Muhammad Saw ini menjadi sebuah contoh model utama lahirnya konstitusi di banyak negara lainnya di dunia.

Kini kehidupan yang berjarak berabad lamanya dengan manusia modern, nama Muhammad Saw tetap menjadi panutan bagi lebih dari 1.8 Milyar penduduk bumi yang beragama Islam. Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dirayakan sebagai bentuk kecintaan umat kepada Sang Nabi Agung. Bahwa Perayaan Maulid Nabi bukan semata memperingati hari kelahirannya, lebih dari itu ia adalah bentuk sebuah kecintaan manusia kepada sosok Sang Nabi Agung yang telah mengenalkan kita kepada Allah Sang Khalik. Rekonstruksi sosial yang digagas oleh Muhammad Saw terhadap bangunan sosial masyarakat Madinah menjadi contoh sempurna bagi penciptaan tatanan sosio kultural manusia modern saat ini. 

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (Qs. An-Najm [53]: 1-4).

You May Also Like
error: Content is protected !!
Hubungi Kami