Allah adalah realitas tunggal, Dia tak dapat disamakan dengan apapun yang ada dalam jagat semesta ini (Qs.[112]:4). Dia Maha Tunggal dalam segalanya yang tak tercapai oleh realitas akal manusia sekalipun. Pada sisi yang berbeda terdapat makhluk yang Dia ciptakan secara berpasangan (Qs.[51]:49). Manusia dalam wujud laki-laki dan perempuan, hewan dalam wujud jantan dan betina, langit dan bumi, malam dan siang, dan segala ciptaan yang berada dalam keadaan berpasangan.
Memahami wujud Allah Yang Maha Tunggal secara historis telah dilakukan oleh manusia sejak ia diciptakan. Manusia dengan komponen mekanika kerja akal mencoba untuk memahami hadirnya Tuhan. Manusia yang berfikir membentuk sebuah pemahaman atas wujud Tuhan yang tak tercapai indera. Walaupun manusia masih berperadaban rendah sekalipun, ia tidak pernah kehilangan rasa bertuhan sebagai fitrah. Untuk itu ia disebut zoon religion (Umar, 2020).
Antroposentrisme manusia membentuk Tuhan sesuai dengan apa yang difahami oleh manusia. Tuhan yang dibentuk dalam akal dan diwujudkan dalam budaya maskulin manusia ikut mempersepsi Tuhan dalam wujud laki-laki. Sosok tuhan kini tercipta dalam persepsi, hasil konstruksi akal yang dibentuk oleh pemahaman laki-laki. Sosok makhluk penguasa yang dengan itu ia menginterpretasikan dunianya, termasuk Tuhan. Laki-laki sendiri menyatakan sebagai pemimpin dan pengendali atas pemaknaan bahwa perempuan diciptakan dari rulang rusuknya. Pemahaman ini yang memunculkan pendapat bahwa perempuan adalah kelas kedua di bawah laki-laki. Sesungguhnya perlu juga diperhatikan bahwa beberapa ayat dalam Qur’an yang menunjukkan adanya persamaan unsur pembuatan laki-laki dan perempuan (Nursalikah, 2021).
Tuhan yang hadir sesungguhnya adalah Tuhan secara epistemologis, tuhan yang diwujudkan dalam pemahaman benak manusia (laki-laki). Ia bukanlah Tuhan ontologis, atau Tuhan yang sesungguhnya karena Tuhan ontologis tak tercapai indera. Hanya Nabi, dan tentunya Rasulullah Saw. yang pernah bertemu Tuhan secara wujud ontologis dalam peristiwa Isra Mikraj.
Manusia selain Nabi dan Rasul hanya mampu mempersepsi, berimajinasi tentang bagaimana Tuhan itu melalui riwayat yang dikisahkan secara naratif dalam Kitab Suci (Qur’an). Hasil persepsi ini sangat dipengaruhi oleh budaya yang umumnya bersifat patriakhi dan maskulin, sehingga Tuhan yang hadir adalah Tuhan dalam sosok laki-laki.
Sosok Tuhan dengan wujud dan sifat yang perkasa, kuasa, menghukum, lebih ditonjolkan dibandingkan sifat femininNya seperti Maha Lembut (Qs.[12]:100), Maha Pengasih (Qs.[20]:5), Maha Penyayang (Qs.[15]:49). Sifat maskulin Tuhan dalam berbagai kebudayaan bahkan diwujudkan dalam bentuk fisik laki-laki secara utuh, dan dalam berbagai literasi bahasa dunia Tuhan menggunakan kata ganti laki-laki Dia laki-laki (He) dan bukan Dia perempuan (She) . Penggunaan kata He laki-laki bagi Tuhan tidak berarti bahwa ini menjadi pendukung superioritas patriaki dalam Al-Qur’an. Nilai kesetaraan ditampilkan dalam al-Qur’an dan membedakan hanyalah ketakwaannya (Dinal Maula, 2020).Tuhan hakikatnya tidaklah laki-laki dan tidak perempuan, karena Dia berbeda dengan makhluk (Nafis, tt.). Dia tak berpasangan, Dia Maha Tunggal dalam wujud dan sifatNya, Dia Yang Maha Tunggal berada dalam singgasana arsy, Dia yang tak terbandingkan dengan apapun (Qs.[42]:11).
Pada konstruksi budaya manusia, sosok Tuhan yang tak terkomparasi nalar ini begitu jauh dalam pemahaman akal. Manusia mencoba meletakkan tuhan lebih dekat lagi. Tuhan yang dapat difikirkan dan lebih dapat diterima dalam budaya manusia, tuhan yang dekat dengan kebudayaan manusia yang berkarakter patriaki. Maka budaya patriaki manusia merekonstruksi tuhan yang dapat difikirkan dan dicerna akal.
Tuhan yang dapat dicerna akal dalam wujudNya ini telah menjadikan manusia menciptakan tuhan dalam benaknya. Ia tidak hanya berada dalam benak, tetapi juga dibendakan secara wujud. Tuhan yang tercipta adalah tuhan dalam persepsi budaya patriaki kini hadir dalam sosok laki-laki. Peradaban manusia mengenal beberapa nama objek yang dituhankan: Baal, Latta, Uzza, Hubal, dan beragam benda yang dituhankan oleh manusia. Tuhan yang didekatkan sekaligus terbendakan, yang tentunya tidak sama secara mutlak dengan wujud ontologis Tuhan yang sesungguhnya.
Tidak cukup tuhan dihadirkan tetapi juga dibentuk dalam personifikasi laki-laki. Semua relasi dengan gagasan ketuhanan menjadi turunan dan sifat patriaki laki-laki.
